Berita

Pendapatan Rinjani Tembus Rp22,5 Miliar: Konservasi Alam Prioritas Utama

Pendapatan negara bukan pajak (PNBP) Taman Nasional Gunung Rinjani mencapai angka fantastis, yaitu Rp22,5 miliar di tahun 2024. Angka ini menjadi sorotan Anggota MPR RI, Johan Rosihan, yang menekankan perlunya peningkatan prioritas pada keselamatan dan konservasi di kawasan tersebut.

Johan berpendapat bahwa pendapatan yang besar seharusnya diinvestasikan untuk meningkatkan keselamatan para pendaki dan menjaga kelestarian lingkungan Gunung Rinjani. Kejadian meninggalnya seorang wisatawan asal Brasil akibat kelelahan dan kurangnya pertolongan menjadi alarm bahaya yang tak boleh diabaikan.

Meningkatnya Kunjungan Wisatawan dan Dampaknya

Sepanjang tahun 2024, tercatat 189.091 wisatawan mengunjungi Taman Nasional Gunung Rinjani. Sebagian besar (74,73%) merupakan wisatawan domestik, sementara sisanya (25,27%) adalah wisatawan mancanegara.

Tingginya angka kunjungan ini menunjukkan potensi wisata Rinjani yang luar biasa. Namun, keberhasilan ini harus diimbangi dengan komitmen pemerintah dalam menjamin keselamatan para pengunjung dan menjaga kelestarian lingkungan.

Kejadian meninggalnya wisatawan asing tersebut telah merusak citra pariwisata Indonesia. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, hal ini berdampak besar pada reputasi destinasi wisata.

Usulan Peningkatan Fasilitas Keselamatan dan Teknologi

Johan Rosihan mengusulkan agar sebagian PNBP Rinjani dialokasikan untuk meningkatkan fasilitas keselamatan dan teknologi di kawasan tersebut.

Ia menyarankan pembangunan dua titik fasilitas penyelamatan utama: gudang peralatan penyelamatan (rescue) di Pelawangan Sembalun dan pusat komando keselamatan di Rinjani Trekking Centre (RTC) Sembalun.

Gudang rescue idealnya dilengkapi dengan alat evakuasi vertikal hingga 500 meter, panel surya, alat komunikasi darurat, dan drone pencari. Sementara RTC dapat berfungsi sebagai pusat kontrol 24 jam dengan teknologi canggih seperti drone thermal dan sistem pelacakan.

Kesiapsiagaan penuh sangat krusial, khususnya pada musim pendakian. Seringkali, insiden ringan hingga berat tidak tertangani dengan baik akibat keterbatasan akses dan minimnya tim penyelamat permanen.

Pentingnya Pengawasan dan Edukasi

Selain fasilitas keselamatan, Johan juga menyoroti pentingnya pemasangan rambu keselamatan di jalur-jalur berisiko tinggi, khususnya di atas Pelawangan Sembalun menuju puncak.

Penanda visual, peringatan arah angin, dan informasi zona rawan longsor sangat dibutuhkan mengingat medan yang terjal dan licin. Edukasi bagi pendaki juga tak kalah penting, terutama bagi pendaki domestik yang jumlahnya mayoritas.

Pos edukasi dan video briefing di shelter utama perlu disediakan. Tidak semua pendaki memiliki pengalaman yang cukup dalam mendaki gunung.

Pengawasan terhadap operator trekking juga perlu diperketat. Sertifikasi pemandu harus diperkuat, jumlah pendaki harian perlu dibatasi, dan pengawasan terhadap jalur resmi harus lebih ketat.

Peran pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) harus lebih komprehensif, tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator keselamatan dan pembina komunitas trekking.

Dengan pengelolaan yang serius dan terintegrasi, Gunung Rinjani berpotensi menjadi contoh pengelolaan wisata konservasi terbaik di Asia Tenggara. Investasi di bidang keselamatan dan konservasi bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan pariwisata dan pelestarian lingkungan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button